Produk-produk makanan saat ini banyak diedarkan dalam bentuk kemasan yang bagus, tentu bertujuan untuk menarik calon konsumen untuk membeli produk tersebut. Kemasan yang digunakan pun beragam, mulai dari kemasan yang terbuat dari kertas, plastik, styrofoam, atau bahan lainnya.

Bagi pelaku usaha makanan yang mengedarkan produknya dalam kemasan harus memperhatikan bagaimana cara mengemas produk makanan. Dikarenakan tujuan dari pengemasan tersebut bukan hanya unsur estetikanya, namun untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakaan, melindungi produk dari kotoran dan membebaskan produk makanan dari zat kontaminasi.

Sebelum memulai bisnis perdagangan makanan menggunakan kemasan sendiri, alangkah baiknya untuk mempelajari terlebih dahulu standarnya.

Standar Kemasan Usaha Pangan

Setiap orang yang melakukan usaha pangan dalam kemasan, tentunya wajib menggunakan bahan kemasan pangan yang tidak membahayakan kesehatan manusia. Sehingga diperlukan kemasan yang aman dan memenuhi persyaratan.

Sesuai dengan Pasal 27 PP No. 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, setiap usaha pangan harus memenuhi persyaratan pengemasan pangan, antara lain:

  • Melindungi dan mempertahankan mutu pangan dari pengaruh luar.
  • Tahan terhadap perlakukan selama pengolahan, pengangkatan pangan, dan peredaran pangan.
  • Melindungi pangan dari cemaran, mencegah kerusakan, dan memungkinkan pelabelan yang baik.
  • Bahan kemasan pangan harus disimpan dan ditangani pada kondisi higienis dan terpisah dari bahan baku dan produk akhir.

Pengurusan izin ini penting sebagai jaminan atau bukti bahwa usaha makanan-minuman rumahan yang dijual memenuhi standar produk pangan yang berlaku. Jika pelaku usaha memiliki izin PIRT, mereka bisa dengan tenang mengedarkan dan memproduksi secara luas dengan resmi.

Izin Jaminan Terhadap Usaha Pangan

Dalam membuka dan mengelola usaha home industry makanan tentu dapat dilakukan oleh siapa saja. Namun pada dasarnya setiap produk pangan yang diproduksi untuk diperdagangkan harus memiliki SPP-IRT.

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga, Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat SPP-IRT adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh bupati/wali kota terhadap pangan produksi PIRT di wilayah kerjanya yang telah memenuhi persyaratan pemberian SPP-IRT dalam rangka peredaran pangan produksi PIRT.

Untuk mendapatkan SPP-IRT, pengusaha (IRTP) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Memiliki sertifikat penyuluhan keamanan pangan;
  • Hasil pemeriksaan sarana produksi pangan produksi IRTP memenuhi syarat; dan
  • Label pangan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

SPP-IRT ini berlaku paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak diterbitkan dan dapat diperpanjang melalui permohonan SPP-IRT dengan jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sebelum masa berlaku SPP-IRT berakhir.

Sebaiknya masa berlaku ini diperhatikan karena produk  yang masa berlaku SPP-IRT telah berakhir dilarang untuk diedarkan.

Keuntungan Memiliki SPP-IRT

Pengusaha produksi pangan ketika telah memiliki izin akan mendapatkan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  • Dengan sudah memiliki izin, pengusaha bisa dengan tenang mengedarkan dan memproses peoduksi secara luas dan resmi.
  • Dengan pencantuman kode IRT, makanan dan minuman akan lebih mudah dipasarkan sehingga meningkatkan daya jual.
  • SPP-IRT ini juga dapat menghindari sanksi administrasi atas kasus seperti: melanggar peraturan di bidang pangan, nama pemilik tidak sesuai dengan yang ada di sertifikat, produk tidak aman dan tidak layak dikonsumsi.

Yuk, lindungi produk usahamu dengan memulainya secara resmi!

Author: Adi Ariy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here